Memang indah bila dipupuk,
Beralih arah bila dah lapuk,
Namun hati terus dipujuk,
Bagai telur di hujung tanduk.
Cinta kita,
Bersemi atas kemahuan,
Pergi tanpa kerelaan,
Bila hilang tanpa jangkaan,
Hati sedih tak keruan,
Namun cinta,
Tetap utuh bersemadi,
Walaupun hanya di hujung nadi,
Biarlah hati merintih sepi,
Bersama kenangan yang abadi.
Cinta kita,
Menjadi tugu peringatan jiwa,
Tetap teguh walaupun digoda,
Yang pastinya,
Biarlah penawar pengubat hati,
Agar diri ini tersenyum kembali,
Buat kekasih yang telah pergi,
Ku doakan kau terus berseri,
Membilang hari menghitung mimpi,
Moga bahagia hidup dikecapi.
Untuk cinta kita,
Hanya ini mampu kuberikan,
Padamu kasih pujaan hati,
Kerana realiti tak seindah fantasi,
Belajarlah untuk hiudp sendiri,
Bila mata merenung bulan,
Menggamit kasih tak kesampaian,
Hanya cahaya menerangi,
Menyuluh malam yang kegelapan,
Andai kata bulan menyepi,
Hilanglah sinar semangat jiwa,
Sudah suratan kasih terburai,
Seribu tahun tak jemu jua,
Namun aku tetap berdiri,
Bersama lilin yang menyinari,
Sebelum ia membakar diri,
Baik ku lari dari digari,
Namun, mengapa?
Bulan terus mengambang,
setelah diri sedia berundur,
Takkan ku sanggup berdiri lagi,
Biarkan kau melangkah pergi,
sebelum ia memakan diri,
Pergiku tanpa kerelaan hati,
Bersama ketentuan yang tak pasti,
Wahai pujangga idaman hati,
Biarkanlah aku pergi,
Membawa diri,
Kerna hidup tak seinddah mimpi,
Bagai anganan ditiup angin...
No comments:
Post a Comment